Rabu, 28 September 2016

PENYAMBUNGAN PALA SECARA EPICOTYL GRAFTING


Sumber : A. Ruhnayat et al. 2016. Teknik Budidaya Pala (Myristica fragrans). Sirkuler. Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat. Balittro. 34 hal.

Agus Ruhnayat : HP. 0816 99 7274 - 0813 2254 3591


Selasa, 27 September 2016

PERBANYAKAN TANAMAN LADA PERDU SECARA SAMBUNGAN DENGAN BATANG BAWAH ASAL BIJI (dalam proses)

STATUS PERKEMBANGAN PENELITIAN TEKNOLOGI PERBANYAKAN TANAMAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS DAN MUTU LADA, CENGKEH DAN PALA (dalam proses)

PENGARUH UMUR BATANG BAWAH TERHADAP KEBERHASILAN PENYAMBUNGAN TANAMAN CENGKEH dalam proses)

MENGEMBANGKAN PALA DENGAN BENIH SAMBUNGAN



Mengembangkan Pala dengan Benih Sambungan

Agus Ruhnayat

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

Benih pala sambungan telah diketahui jenis kelaminnya sehingga komposisi  dan posisi antara jantan dan betina dapat ditentukan saat penanaman. Keunggulan lainnya  tanaman pala sambungan mulai berbuah pada umur 1,5 tahun, relatif pendek sehingga memudahkan panen, dapat ditanam secara monokultur dan polikultur diantara
tanaman perkebunan lainnya.

Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tanaman asli Indonesia. Saat ini Indonesia merupakan negara pengekspor biji, fuli dan minyak atsiri  pala terbesar, yaitu memasok sekitar 70-75% kebutuhan pala di dunia. Selain itu daging buahnya  digunakan untuk industri makanan dan minuman di dalam negeri. Biji dan fuli digunakan dalam industri pengawetan ikan, pembuatan sosis, makanan kaleng, bumbu dapur  dan sebagai adonan kue, karena  aroma minyak atsiri dan lemak yang dikandungnya meningkatkan nafsu makan. Minyak pala dari hasil penyulingan biji,daging buah, fuli dan daun merupakan bahan baku industri obat-obatan, pembuatan sabun, parfum dan sebagainya.

Kendala Pengembangan Pala
Tingginya permintaan dan harga biji pala telah mendorong  pengembangan pala di beberapa daerah. Namun, masih dijumpai beberapa kendala salah satunya adalah ketersediaan bahan tanaman yang telah diketahui jenis kelaminnya. Hal ini karena pala termasuk tanaman berumah dua (dioecious), sehingga dikenal ada tanaman jantan, betina dan hermaprodit (bungan jantan dan bunga betina terdapat dalam satu pohon atau berumah satu). Buah pala hanya  dihasilkan oleh tanaman betina dan hermaprodit, sedangkan tanaman jantan hanya menghasilkan bunga yang diperlukan untuk penyerbukan. Tanaman betina lebih banyak menghasilkan buah dibandingkan dengan yang hemaprodit. Oleh karena itu untuk tujuan komersial yang dikembangkan adalah tanaman pala betina dan jantan.
Satu tanaman jantan secara teoritis mampu menyerbuki 10-30 tanaman betina.  Namun hasil observasi di lapang menunjukkan,  makin dekat jarak antara tanaman betina dan  jantan, buahnya semakin lebih lebat karena penyerbukannya intensif. Oleh karena itu selain komposisi jantan dan betina, posisi tanaman betina dan jantan perlu pula diperhatikan agar  tanaman betina dapat berproduksi secara optimal. Hal ini sangat sulit dilakukan apabila  tanaman pala diperbanyak dengan biji, seperti yang dilakukan petani, karena belum ada metode yang dapat mengetahui jenis kelamin tanaman pala pada fase biji dan bibit.
 Jenis kelamin tanaman pala yang diperbanyak dari biji baru bisa diketahui setelah tanaman berbunga yaitu pada umur 6-8 tahun. Bunga jantan dan betina dengan mudah dapat dibedakan. Pada umumnya dari 100 biji yang ditanam, akan menghasilkan betina  55 %,  jantan 40% dan hemaprodit 5 %. Komposisi ini sangat merugikan petani karena produksi per satuan luas menjadi rendah akibat banyaknya tanaman jantan dan tercampur dengan tanaman hemaprodit  dan seringkali posisinya tanaman jantan jauh dari tanaman betina.
Untuk mendapatkan komposisi dan posisi tanaman jantan dan betina yang tepat di lapang, jenis kelamin tanaman pala harus dapat diketahui sejak dini, yaitu pada saat di pembibitan. Masalah ini dapat dipecahkan melalui perbanyakan secara vegetatif antara lain melaui epicotyl grafting (batang bawah berumur 20-30 hari) dan  soft wood grafting (batang bawah umur 4-6 bulan). Dengan kedua cara ini  tingkat keberhasilan penyambungan berkisar antara 80-90 % dan  benih hidup siap tanam (1 tahun setelah penyambungan) mencapai 98 %. Batang atas dapat berasal dari cabang plagiotrop (menghasilkan tanaman dengan kanopi tumbuh menyamping)  dan ototrop (menghasilkan tanaman dengan kanopi tumbuh keatas, seperti perbanyakan dari biji).

Keunggulan Benih Pala Sambungan
Pala betina sambungan pada umur 2,5 tahun mampu menghasilkan buah 70 butir dengan tinggi tanaman 1,28 m, diameter kanopi 1,2 m, jumlah cabang 33 buah.  Pada umur 8 tahun tiap tanaman dapat  menghasilkan sekitar 1000 buah. Tanaman tumbuh kuat dengan kanopi kompak, tinggi tanaman pada tahun ke-9 adalah 3,5 m dengan lebar kanopi 3,5 m, panen buah mudah. Serangan busuk buah sangat rendah dan buah rontok tidak ada. Bobot buah rata-rata 75 g, biji kering 9 g, fuli kering per buah 1,33 g/buah.
 Benih pala sambungan dapat ditanam dengan Jarak tanam lebih sempit (5 x 5 m atau 5 x 6 m) sehingga jumlah tanaman per satuan luas meningkat (monokultur : 300 – 400 tanaman/ha). Dapat ditanam diantara tanaman perkebunan lainnya seperti kelapa, kakao, kopi dan sebagainya. Sebagai tanaman sela di kebun kelapa dapat  menghasilkan ratat-rata 480 g fuli kering dan 3122 kg biji kering per ha pada umur 8 tahun.  Fuli berwarna merah gelap dan biji hitam mengkilap dan tebal. Komposisi (sex ratio) dan posisi jantan dan betina yang ideal di lapang  dapat diatur pada saat penanaman, yaitu satu tanaman jantan untuk 8 tanaman betina. Dapat juga ditanam di pekarangan atau pot untuk keperluan bumbu, makanan dan minuman rumah tangga sehari-hari.
Benih pala jantan dan betina  sambungant juga dapat digunakan untuk  merehabilitasi atau mengganti kelebihan tanaman jantan oleh tanaman betina dalam suatu areal pertanaman pala. Dapat pula untuk membangun kebun induk sumber benih, baik untuk perbanyakan biji maupun entres/batang atas untuk penyambungan. Juga bermanfaat untuk menyelamatkan plasma nutfah pala in situ (Kepulaan Maluku) dan ex situ (Sulawesi Utara, Nanggro Aceh Darusalam, Papua Barat dan daerah lainnya)  yang pada saat ini sebagian besar tanaman pala  sudah berumur tua.
Komposisi dan posisi tanaman jantan dan betina di lapang yang ideal (1:8)
 

Benih pala sambung umur 1 tahun siap ditanam di lapang
Tanaman pala sambung mulai berbuah pada umur 1,5 tahun


 Sumber : Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 37 No. 3 2015, hal. 10-11.

Agus Ruhnayat : HP. 0816 99 7274 - 0813 2254 3591