Mengembangkan Pala dengan Benih Sambungan
Agus Ruhnayat
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Benih pala sambungan
telah diketahui jenis kelaminnya sehingga komposisi dan posisi antara jantan dan betina dapat
ditentukan saat penanaman. Keunggulan lainnya tanaman pala sambungan mulai berbuah pada umur
1,5 tahun, relatif pendek sehingga memudahkan panen, dapat ditanam secara
monokultur dan polikultur diantara
tanaman
perkebunan lainnya.
Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tanaman asli Indonesia. Saat
ini Indonesia merupakan negara
pengekspor biji, fuli dan minyak atsiri pala terbesar, yaitu memasok sekitar 70-75% kebutuhan pala di dunia. Selain itu daging buahnya digunakan untuk industri makanan dan minuman di dalam negeri. Biji dan fuli digunakan dalam
industri pengawetan ikan, pembuatan sosis, makanan kaleng, bumbu dapur dan sebagai adonan kue, karena aroma
minyak atsiri dan lemak yang dikandungnya meningkatkan nafsu makan. Minyak pala
dari hasil penyulingan biji,daging
buah, fuli dan daun merupakan bahan baku industri
obat-obatan, pembuatan sabun, parfum dan sebagainya.
Kendala Pengembangan Pala
Tingginya permintaan
dan harga biji pala telah mendorong pengembangan
pala di beberapa daerah. Namun, masih dijumpai beberapa kendala
salah satunya adalah ketersediaan bahan tanaman yang telah diketahui jenis
kelaminnya. Hal ini karena pala termasuk tanaman berumah dua (dioecious), sehingga dikenal ada tanaman jantan, betina dan
hermaprodit (bungan jantan dan bunga betina
terdapat dalam satu pohon atau berumah satu).
Buah pala
hanya dihasilkan oleh tanaman betina dan hermaprodit, sedangkan tanaman
jantan hanya menghasilkan bunga yang diperlukan untuk penyerbukan. Tanaman
betina lebih banyak menghasilkan buah dibandingkan dengan yang hemaprodit. Oleh karena itu untuk
tujuan komersial yang dikembangkan adalah tanaman pala betina dan jantan.
Satu tanaman jantan secara teoritis
mampu menyerbuki 10-30 tanaman betina. Namun hasil observasi di lapang menunjukkan, makin dekat jarak
antara tanaman betina dan jantan, buahnya semakin lebih lebat karena penyerbukannya intensif.
Oleh karena itu selain komposisi jantan dan betina,
posisi tanaman betina dan jantan perlu pula diperhatikan agar tanaman betina dapat berproduksi
secara optimal. Hal ini sangat sulit dilakukan apabila tanaman pala
diperbanyak dengan biji, seperti yang dilakukan petani, karena belum ada metode yang dapat
mengetahui jenis kelamin tanaman pala pada fase biji dan bibit.
Jenis kelamin tanaman
pala yang diperbanyak dari biji baru bisa
diketahui setelah tanaman berbunga yaitu pada umur 6-8 tahun. Bunga jantan dan betina dengan mudah dapat dibedakan. Pada umumnya dari 100 biji yang ditanam, akan menghasilkan betina
55 %,
jantan 40% dan hemaprodit 5 %. Komposisi ini sangat merugikan petani karena produksi per satuan luas menjadi rendah akibat
banyaknya tanaman jantan dan tercampur dengan tanaman hemaprodit dan
seringkali posisinya tanaman jantan jauh dari tanaman betina.
Untuk
mendapatkan komposisi dan posisi tanaman jantan dan betina yang tepat di
lapang, jenis kelamin tanaman pala harus dapat diketahui sejak dini, yaitu pada saat di pembibitan. Masalah ini dapat dipecahkan melalui perbanyakan secara vegetatif antara lain melaui epicotyl
grafting (batang bawah berumur 20-30 hari) dan soft wood grafting (batang bawah umur 4-6
bulan). Dengan kedua cara ini tingkat keberhasilan penyambungan berkisar antara 80-90
% dan benih hidup siap tanam (1 tahun setelah penyambungan)
mencapai 98 %. Batang atas dapat
berasal dari cabang plagiotrop (menghasilkan tanaman dengan kanopi tumbuh menyamping)
dan ototrop (menghasilkan tanaman dengan
kanopi tumbuh keatas, seperti perbanyakan dari biji).
Keunggulan Benih Pala Sambungan
Pala betina sambungan pada umur 2,5 tahun mampu menghasilkan buah 70 butir dengan tinggi tanaman 1,28 m, diameter kanopi 1,2 m, jumlah cabang 33 buah. Pada umur 8 tahun
tiap tanaman dapat menghasilkan sekitar
1000 buah. Tanaman tumbuh kuat dengan kanopi kompak, tinggi tanaman pada tahun
ke-9 adalah 3,5 m dengan lebar kanopi 3,5 m, panen buah mudah. Serangan busuk
buah sangat rendah dan buah rontok tidak ada. Bobot buah rata-rata 75 g, biji
kering 9 g, fuli kering per buah 1,33 g/buah.
Benih pala sambungan dapat ditanam dengan Jarak
tanam lebih sempit (5 x 5 m atau 5 x 6 m) sehingga
jumlah tanaman per satuan luas meningkat (monokultur :
300 – 400 tanaman/ha). Dapat ditanam diantara tanaman perkebunan lainnya seperti
kelapa, kakao, kopi dan sebagainya. Sebagai tanaman sela di kebun kelapa dapat menghasilkan ratat-rata 480 g fuli kering dan 3122
kg biji kering per ha pada umur 8 tahun.
Fuli berwarna merah gelap dan biji hitam mengkilap dan tebal. Komposisi (sex ratio)
dan posisi jantan dan betina yang ideal di lapang dapat diatur pada
saat penanaman, yaitu satu tanaman jantan untuk 8 tanaman betina. Dapat juga ditanam
di pekarangan atau pot untuk keperluan bumbu, makanan dan minuman rumah tangga
sehari-hari.
Benih pala jantan dan betina sambungant juga dapat digunakan untuk merehabilitasi atau mengganti kelebihan
tanaman jantan oleh tanaman betina dalam suatu areal pertanaman pala. Dapat pula
untuk membangun kebun induk sumber benih, baik untuk perbanyakan biji maupun entres/batang
atas untuk penyambungan. Juga bermanfaat untuk menyelamatkan plasma nutfah pala
in situ (Kepulaan Maluku) dan ex situ (Sulawesi Utara, Nanggro Aceh
Darusalam, Papua Barat dan daerah lainnya)
yang pada saat ini sebagian besar tanaman pala sudah berumur tua.
Komposisi dan posisi tanaman jantan dan betina di lapang yang ideal (1:8)
Benih pala sambung umur 1
tahun siap ditanam di lapang
Tanaman pala sambung
mulai berbuah pada umur 1,5 tahun
Sumber : Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 37 No. 3 2015, hal. 10-11.
Agus Ruhnayat : HP. 0816 99 7274 - 0813 2254 3591