Senin, 30 Desember 2013

PUPUK ORGANIK SEHATI (PUPUK ORGANIK BERBASIS PESTISIDA NABATI) UNTUK MENINGKATAN PRODUKSI DAN KESEHATAN TANAMAN



Kandungan bahan orgamik tanah pada lahan-lahan pertaniam di Indonesia pada umumnya masuk dalam kriteria rendah sekitar 2 % padahal yang ideal adalah ≥ 5 %. Oleh karena itu pada lahan yang kadar C-organiknya rendah, walaupun diberi pupuk kimia sintetik yang tinggi namum produksi tanaman cenderung terus menurun. Kendala utama pada tanaman yang dibudidayakan selain membutuhkan unsur hara hara dan bahan organik cukup tinggi juda adanya serangan penyakit. Pupuk organik yang banyak beredar dipasaran saat ini belum bisa mengatasi permasalahan pada tanaman yang terkendala akibat adanya serangan penyakit, diduga karena hanya mengandung unsur hara dan bahan organik saja dengan kadar yang relatif rendah. Oleh karena itu perlu dikembangkan pupuk organik yang mempunyai tiga komponen utama, yaitu : sebagai sumber unsur hara, C-organik dan  pengendali penyakit.
Sumber bahan organik dan  pupuk N, P, K, Ca, dan Mg alami yang potensial untuk digunakan sebagai pupuk adalah daun glirisidia dan serasah daun bambu. Komposisi kimia daun glirisidia cukup lengkap (Jones, 1979; Smith dan Houter, 1987 dalam Mathius, 1992). Hasil penelitian Wong dan Paulus (1993) menunjukkan bahwa unsur hara yang terkandung dalam bahan kering glirisidia adalah 2,72 % N, 0.182 % P2O5, 1.79 % K2O, 1.46 % CaO, 0.33 MgO. Hasil penelitian pada tanaman panili menunjukkan bahwa pemberian kompos daun glirisidia dapat meningkatkan pertumbuhan sekitar 80 – 90 % (Ruhnayat, 1999). Hasil analisis laboratorium menunjukan bahwa serasah daun bambu mengandung 3,4 % N, 0,21 % P2O5,        2,2 %  K2O, 2,1 % CaO dan 0,65 % MgO (Ruhnayat, 2006).
Salah satu sumber K dan Si alami yang cukup potensial adalah limbah hasil pertanian seperti sekam padi. Unsur hara K dan Si ini merupakan komponen untuk meningkatkan ketahan tanaman terhadap cekaman biotis maupun abiotis. Menurut Ochse et. al. (1961) umumnya tanaman penghasil buah dan biji-bijian paling banyak mengakumulasikan kalium pada bagian kulit buah atau biji. Ketertersediaan K yang cepat di dalam tanah sangat diperlukan karena K selalu diserap lebih awal dari pada N dan P. Hasil penelitian pada tanaman lempuyang gajah menunjukkan bahwa pemberian pupuk N dan abu sekam padi dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot rimpang segar sebesar 90 – 110 % dibanding dengan kontrol (Ruhnayat, 2002). Sedangkan hasil penelitian pada tanaman jahe pemberian sekam padi sebanyak 125 g/pot  yang dicampur dengan limbah kulit biji kopi sebanyak 250 g/pot dapat meningkatkan produksi rimpang segar sebesar 53,78 % dibanding dengan kontrol (125 g/pot pupuk kandang) (Gusmaini dan Nurmaslahah, 2002).
Menurut Singh  (l971) bahan organik disamping sebagai sumber nutrisi dan memperbaiki sifat fisik dan tanah dapat pula berfungsi sebagai salah satu komponen penting dalam pengendali patogen tanah secara  terpadu untuk memperbaik kesehatan tanaman. Bahan organik dapat meningkatkan aktivitas mikroba antagonis, menghasilkan toksin selama proses dekomposisi yang dapat menyebabkan  terjadi lisis pada patogen (Linderman dan Gilbert, 1975; Ueda et al., l990).
Beberapa minyak atsiri bersifat antibakteri terhadap bakteri patogen tanaman, seperti Ralstonia solanacearum, Erwinia carotovora dan Xanthomonas vesicatoria (Vasinauskiene et al., 2006 dalam Supriadi, 2008).  Minyak atsiri serai wangi dan serai dapur dapat mengurangi populasi R. solanacearum dalam tanah pada percobaan pot tanaman tomat di rumah kaca (Pradhanang et al., 2005 dalam supriadi, 2008). Cara lain untuk mengendalikan penyakit tular tanah seperti bakteri R. Solanacearum adalah dengan pemberian senyawa biofumigan diantaranya yang telah banyak diteliti bahkan dimanfaatkan adalah glukosinolat yang berasal dari famili kubis-kubisan/brassicaceae (Yulianti dan Supriadi, 2008).
Pada tahun 2009-2011 telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk untuk mendapatkan dua formula pupuk organik konsentrat plus dalam bentuk curah/basah  dan pelet/kering dengan tanaman uji jahe putih besar. Pupuk organik konsentrat tersebut diformulasi dari bahan-bahan organik yang telah disebutkan di atas (daun glirisidia, serasah daun bambu, daun sawi, sekam padi, arang sekam padi, serbuk batok kelapa, serbuk arang batok kelapa dan serbuk gergaji, daun cengkeh, serai wangi, serai dapur dan biofertilizer mikoriza).Pupuk organik konsentrat tersebut diberi nama SEHATI (SEhat HAsil TInggi). Baku mutu pupuk organik konsentrat tersebut terlihat pada     Tabel 1 (memenuhi syarat baku mutu pupuk organik).

Tabel 1. Baku mutu organik konsentrat bentuk curah dan pelet
Komponen
Nilai
Basah/curah
Kering/pelet
N total (%)
4,10
3,29
P2O5 (%)
5,41
5,30
K2O (%)
8,56
8,02
Na (%)
tidak terdikteksi
tidak terdikteksi
C-organik (%)
48,8
38,23
C/N rasio
12,20
11,62
Ca (%)
6,35
6,41
Mg (%)
3,78
3,67
Fe (%)
1,86
1,56
Zn (ppm)
535
523
Mn (%)
0,18
0,19
Co (ppm)
15
14
Pb (ppm)
0
0
Cd (ppm)
5
5
Cu (ppm)
97
93
S (%)
0,96
0.95
Si (%)
31
31
pH
7,64
7.40
Kadar air (%)
16
6,92
Kadar eugenol
1,003
1,003
Kadar sitronellal
0,048
0,048
Kadar sitral
0,008
0,008
Mikoriza propagul/kg
80


Pupuk organik konsentrat SEHATI bentuk kering/pelet lebih mudah didistribusikan karena bobotnya lebih ringan dibandingkan pupuk organik basah/curah  dan bentuknya lebih simpel. 


Gambar 1. Pupuk organik SEHATI bentuk curah dan pelet

 Gambar 2a. Tanaman jahe yang tidak diberi pupuk organik SEHATI

 Gambar 2b. Tanaman jahe yang diberi pupuk organik SEHATI