Kandungan bahan orgamik tanah pada lahan-lahan
pertaniam di Indonesia pada umumnya masuk dalam kriteria rendah sekitar 2 %
padahal yang ideal adalah ≥ 5 %. Oleh karena itu pada lahan
yang kadar C-organiknya rendah, walaupun diberi pupuk kimia sintetik yang
tinggi namum produksi tanaman cenderung terus
menurun. Kendala utama pada tanaman yang dibudidayakan selain membutuhkan
unsur hara hara dan bahan organik cukup tinggi juda adanya serangan penyakit. Pupuk
organik yang banyak beredar dipasaran saat ini belum bisa mengatasi
permasalahan pada tanaman yang terkendala
akibat adanya serangan penyakit, diduga karena hanya mengandung unsur hara
dan bahan organik saja dengan kadar yang relatif rendah. Oleh karena itu perlu dikembangkan pupuk organik yang
mempunyai tiga komponen utama, yaitu : sebagai
sumber unsur hara, C-organik dan
pengendali penyakit.
Sumber
bahan organik dan pupuk N, P, K, Ca, dan Mg alami
yang potensial untuk digunakan sebagai pupuk adalah daun glirisidia dan serasah
daun bambu. Komposisi kimia daun glirisidia cukup lengkap (Jones, 1979; Smith
dan Houter, 1987 dalam Mathius, 1992). Hasil penelitian Wong dan Paulus
(1993) menunjukkan bahwa unsur hara yang terkandung dalam bahan kering
glirisidia adalah 2,72 % N, 0.182 % P2O5, 1.79 % K2O, 1.46 % CaO, 0.33 MgO.
Hasil penelitian pada tanaman panili menunjukkan bahwa pemberian kompos daun
glirisidia dapat meningkatkan pertumbuhan sekitar 80 – 90 % (Ruhnayat, 1999).
Hasil analisis laboratorium menunjukan bahwa serasah daun bambu mengandung 3,4
% N, 0,21 % P2O5,
2,2 % K2O, 2,1 % CaO dan 0,65 % MgO
(Ruhnayat, 2006).
Salah
satu sumber K dan Si alami yang cukup potensial adalah limbah hasil pertanian
seperti sekam padi. Unsur hara K dan Si ini merupakan komponen untuk meningkatkan
ketahan tanaman terhadap cekaman biotis maupun abiotis. Menurut Ochse et. al. (1961)
umumnya tanaman penghasil
buah dan biji-bijian paling banyak mengakumulasikan kalium pada bagian kulit
buah atau biji. Ketertersediaan K yang cepat di dalam tanah sangat diperlukan
karena K selalu diserap lebih awal dari pada N dan P. Hasil penelitian pada
tanaman lempuyang gajah menunjukkan bahwa pemberian pupuk N dan abu sekam padi
dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot rimpang segar sebesar 90 – 110 %
dibanding dengan kontrol (Ruhnayat, 2002). Sedangkan hasil penelitian pada
tanaman jahe pemberian sekam padi sebanyak 125 g/pot yang dicampur dengan limbah kulit biji kopi
sebanyak 250 g/pot dapat meningkatkan produksi rimpang segar sebesar 53,78 %
dibanding dengan kontrol (125 g/pot pupuk kandang) (Gusmaini dan Nurmaslahah,
2002).
Menurut
Singh (l971) bahan organik disamping
sebagai sumber nutrisi dan memperbaiki sifat fisik dan tanah dapat pula
berfungsi sebagai salah satu komponen penting dalam pengendali patogen tanah
secara terpadu untuk memperbaik
kesehatan tanaman. Bahan organik dapat meningkatkan aktivitas mikroba
antagonis, menghasilkan toksin selama proses dekomposisi yang dapat
menyebabkan terjadi lisis pada patogen
(Linderman dan Gilbert, 1975; Ueda et al., l990).
Beberapa minyak atsiri bersifat antibakteri terhadap
bakteri patogen tanaman, seperti Ralstonia solanacearum, Erwinia
carotovora dan Xanthomonas vesicatoria (Vasinauskiene et al.,
2006 dalam Supriadi, 2008).
Minyak atsiri serai wangi dan serai dapur dapat mengurangi populasi R.
solanacearum dalam tanah pada percobaan pot tanaman tomat di rumah kaca
(Pradhanang et al., 2005 dalam supriadi, 2008). Cara lain untuk
mengendalikan penyakit tular tanah seperti bakteri R. Solanacearum adalah dengan pemberian senyawa biofumigan
diantaranya yang telah banyak diteliti bahkan dimanfaatkan adalah glukosinolat
yang berasal dari famili kubis-kubisan/brassicaceae (Yulianti dan Supriadi,
2008).
Pada tahun 2009-2011 telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk untuk mendapatkan dua formula pupuk organik
konsentrat plus dalam bentuk curah/basah
dan pelet/kering dengan tanaman uji jahe putih besar. Pupuk organik
konsentrat tersebut diformulasi dari bahan-bahan organik yang telah disebutkan
di atas (daun glirisidia, serasah daun bambu, daun sawi, sekam padi,
arang sekam padi, serbuk batok kelapa, serbuk arang batok kelapa dan serbuk
gergaji, daun cengkeh, serai wangi, serai dapur dan biofertilizer mikoriza).Pupuk
organik konsentrat tersebut diberi nama SEHATI (SEhat HAsil TInggi). Baku mutu
pupuk organik konsentrat tersebut terlihat pada Tabel 1 (memenuhi syarat baku mutu pupuk
organik).
Tabel 1. Baku mutu organik
konsentrat bentuk curah dan pelet
Komponen
|
Nilai
|
|
Basah/curah
|
Kering/pelet
|
|
N total (%)
|
4,10
|
3,29
|
P2O5 (%)
|
5,41
|
5,30
|
K2O (%)
|
8,56
|
8,02
|
Na (%)
|
tidak terdikteksi
|
tidak terdikteksi
|
C-organik (%)
|
48,8
|
38,23
|
C/N rasio
|
12,20
|
11,62
|
Ca (%)
|
6,35
|
6,41
|
Mg (%)
|
3,78
|
3,67
|
Fe (%)
|
1,86
|
1,56
|
Zn (ppm)
|
535
|
523
|
Mn (%)
|
0,18
|
0,19
|
Co (ppm)
|
15
|
14
|
Pb (ppm)
|
0
|
0
|
Cd (ppm)
|
5
|
5
|
Cu (ppm)
|
97
|
93
|
S (%)
|
0,96
|
0.95
|
Si (%)
|
31
|
31
|
pH
|
7,64
|
7.40
|
Kadar air (%)
|
16
|
6,92
|
Kadar eugenol
|
1,003
|
1,003
|
Kadar sitronellal
|
0,048
|
0,048
|
Kadar sitral
|
0,008
|
0,008
|
Mikoriza propagul/kg
|
80
|
|
Pupuk
organik konsentrat SEHATI bentuk
kering/pelet lebih mudah didistribusikan karena bobotnya lebih ringan dibandingkan pupuk organik basah/curah
dan bentuknya lebih simpel.
Gambar 1. Pupuk organik SEHATI bentuk curah dan pelet
Gambar 2a. Tanaman jahe yang tidak diberi pupuk organik SEHATI
Gambar 2b. Tanaman jahe yang diberi pupuk organik SEHATI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar